Minggu, 27 November 2022

Genmuda – Tepat tahun lalu, Presiden Joko Widodo menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Meski jadi salah satu hari yang patut diperingati, tanggal 22 Oktober tetap hitam di kalender bukan tanggal merah.

Sebelumnya, Pak Jokowi sempet ‘galau’ buat nentuin tanggal Hari Santri. Awalnya beliau ingin tanggal 1 Muharram sebagai hari santri. Mengingat hari itu adalah Tahun Baru Hijriyah tanggalnya pun diubah jadi 22 Oktober dengan alasan engga mau ganggu umat Islam yang lagi ngerayain 1 Muharram.

Sejarahnya

via oasemuslim.com
KH Hasyim Asy’ari, tokoh agama, pahlawan, sekaligus ulama pendiri Nahdatul Ulama. (Sumber: oasemuslim.com)

Lalu, kenapa harus 22 Oktober? Nah, karena ada kejadian sejarah yang melibatkan para santri di tanggal itu. Kawan Muda tentu udah pernah denger atau baca dong soal Netherland Indian Civil Administration (NICA), rombongan pemerintahan Belanda yang nebeng militer Inggris kembali ke Indonesia setelah merdeka.

Kedatangan londo-londo yang belum move-on dari Nusantara itu dilawan sama para santri di tanah air. KH Hasyim Asy’ari tokoh Nahdatul Ulama bersama ulama lain menyerukan Resolusi Jihad melawan NICA yang mau ngejajah lagi.

Bukan cuma asal ngomong, KH Hasyim Asy’ari, santri, dan para ulama juga ngebuat dokumen resolusi jihad. Dokumennya disetujui ratusan kyai di berbagai daerah dan terakhir ditandatangani KH Hasyim Asy’ari.

via 4shared.com
Foto gantengnya Bung Tomo. Salah satu tokoh pengobar semangat kaum muda di Perang Surabaya. (Sumber: 4shared.com)

Kobaran jihad melawan penjajah ini terus berkobar. Warga yang bukan santri pun jadi tergerak. Laskar rakyat yang persenjataannya kalah dari Belanda dan Inggris saat itu justru makin berkobar semangatnya.

Puncaknya adalah peristiwa 10 November 1945, alias Perang Surabaya. Ketika itu, para santri, laskar, dan warga bersatu ngelawan serbuan besar-besaran 30 ribu infanteri, sejumlah pesawat, tank, dan kapal perang pasukan Inggris yang ingin menggagalkan status kemerdekaan Indonesia. Heroik.

Apa kata tokoh agama soal Hari Santri?

via republika.co.id
Haedar Nashir angkat bicara soal HSN 22 Oktober. (Sumber: Republika.co.id)

Jaman udah berganti dan sejumlah tokoh agama punya pandangan lain soal Hari Santri. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyatakan ketidaksetujuannya terkait HSN. Menurut beliau, penetapan HSN justru mengancam tali persaudaraan Islami, mengingat engga semua umat Muslim merupakan santri yang belajarnya di pesantren. Beliau khawatir ada santri yang merasa eksklusif karena salah menafsirkan maksud HSN dari yang dipikirkan Pak Jokowi.

“Untuk apa membuat seremonial umat yang justru membuat kita terbelah,” kata Pak Haedar. Beliau justru berharap pemerintah aktif mengayomi semua komponen bangsa. “Jauh lebih penting mengejar ketertinggalan IPTEK,” kata beliau, seperti dikutip Republika.co.id, Oktober 2015.

Meski beliau udah mengutarakan pendapatnya, HSN tetep diadain tiap 22 Oktober. Dan tahun ini adalah hari jadi kedua HSN setelah diratifikasi 2015 lalu. Kira-kira apa yang bisa dilakukan supaya santri bisa ngerayain hari besarnya sekaligus ngejaga persaudaraan antar umat beragama ya? Tulis ide kamu di comment dong. Please… (sds)

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.

Leave a Response