Rabu, 14 November 2018

Genmuda – Kalau udah ngomongin soal kiamat maupun tanda-tandanya, biasanya yang bakal terjadi adalah kepanikan masal. Namun demikian, apa jadinya kalau kiamat tersebut turut ngelibatin para mutan kayak di film ‘X-Men: Apocalypse’?

‘X-Men: Apocalypse’ merupakan film kesembilan dari rangkaian film ‘X-Men’. Disutradarai oleh Bryan Singer, film ini merupakan salah satu film yang paling ditunggu-tunggu di tahun 2016. Hal itu pun bukan cuma karena unsur superhero-nya, tapi juga karena deretan pemain top.

Kiamat Versi Mutan

Lebih lanjut, ‘X-Men: Apocalypse’ berikisah tentang mutan kuno bernama En Sabah Nur alias Apocalypse (Oscar Isaac), yang sempat dikhianati pemujanya dan kemudian terkubur selama berabad-abad. Setelah bangkit kembali di tahun 1983, sang mutan ngelihat kalau peradaban manusia udah melemah dan mutusin buat ngehancurin semua hal yang ada di muka bumi supaya bisa dibangun lagi.

(Sumber: Istimewa)
(Sumber: Istimewa)

Nah, dalam proses pemusnahan dan penciptaan dunia baru versinya, Apocalyse ngerekrut empat pengikut (The Four Horsemen), yang terdiri dari para mutan hebat. Melihat hal itu, Charles Xavier alias Professor X (James McAvoy) dengan dibantu Raven alias Mystique (Jennifer Lawrence) dan para mutan muda pun akhirnya harus terlibat dalam pertarungan buat ngehentiin Apocalypse dan ngalahin para pengikutnya.

Dari segi cerita, ‘X-Men: Apocalypse’ pada dasarnya masih engga jauh-jauh dari mutan yang (masih aja) nyari jati diri, hubungan ‘putus nyambung’ Professor X dan Magneto (Michael Fassbender), maupun kesan bahwa mutan dan manusia engga bakal bisa hidup tenang dan berdampingan. Hal-hal semacam itu kayaknya engga pernah lepas dari rangkaian film ‘X-Men’, sampai-sampai rasanya repetitif banget dan lama-lama ngebosenin.

(Sumber: Istimewa)
(Sumber: Istimewa)

Di samping itu, efek kepanikan masal di kalangan manusia akibat kekacauan yang dibuat Apocalypse dan para pengikutnya juga engga begitu terasa di ‘X-Men: Apocalypse’. Para mutan seakan bertarung buat keselamatan dan kelangsungan hidupnya aja, padahal kehidupan seluruh umat manusia sebenarnya juga bergantung pada mereka. Dunia baru yang dipengenin Apocalypse bahkan masih terkesan samar.

Efek visual dan sound yang engga kalah keren

Untungnya, ‘X-Men: Apocalypse’ nampilin efek visual dan dramatisasi yang memukau dan unsur komedinya juga pas. Apalagi ditambah sama referensi politik maupun budaya populer yang ada di tahun 80-an — mulai dari Presiden Reagan sampai permainan Ms. Pac-Man serta lagu ‘The Four Horsemen’-nya Metallica dan ‘Sweet Dreams (Are Made of This)’-nya Eurythmics, seengganya latar film ini masih sesuai dan terbilang ngehibur banget buat sebuah film yang berkisah tentang kiamat.

(Sumber: Istimewa)
(Sumber: Istimewa)

Sementara itu, buat penampilan para pemain ‘X-Men: Apocalypse’, masing-masing dari mereka padahal punya karakter yang kuat, tapi engga semuanya dapat kesempatan buat benar-benar nunjukin kemampuan mereka. Sebut aja Psylocke (Olivia Munn) dan Archangel (Ben Hardy), yang kehadirannya seperti numpang lewat, selesai gitu doang.

Meski begitu, untungnya ‘X-Men: Apocalypse’ masih ada Evan Peters, Tye Sheridan, Sophie Turner, dan Kodi Smit-McPhee (Quicksilver, Cyclops, Jean Grey, dan Nightcrawler). Peters mampu nyuri perhatian dan ngasih warna tersendiri buat film ini lewat tingkah dan pribadinya yang konyol, sedangkan Sheridan, Turner, dan Smit-McPhee lewat chemistry mereka yang kuat.

Dengan demikian, Singer mungkin udah ngambil risiko besar dengan ngedepanin efek visual dan hadirnya sekumpulan pemain hebat di ‘X-Men: Apocalypse’ ketimbang ngegali cerita dan ekspresinya secara lebih dalam. Terlepas dari itu, engga bisa diungkiri kalau film ini masih layak buat dianggap sebagai salah satu film terbesar di tahun 2016. So, buruan nonton dan rasain sensasinya langsung, Kawan Muda!

(sds)

Comments

comments

Gabrielle Claresta
Eccentric daydreamer