Selasa, 24 November 2020

Genmuda – Baju besi robotik yang nambah kekuatan penggunanya macam di film ‘Iron Man’, ‘Edge of Tomorrow’, atau dalam game ‘Metal Gear’ bukan lagi sebatas fiksi-ilmiah. Baju yang dikenal dengan istilah exoskeleton itu sudah digunakan di Amerika Serikat dan Jepang, –dua negara pionir inovasi teknologi tinggi.

Sekitar Oktober 2015, Tentara AS mulai meriset Tactical Assault Light Operator Suit (TALOS), sebuah baju exoskeleton yang melindungi tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki. Selain itu, baju besi mekanik itu juga bisa menambah kekuatan penggunanya hingga puluhan kali lipat.

Produk ciptaan TALOS ini punya code-name ‘Iron Man.’ Ide awalnya muncul buat meminimalisir korban pasukan komando AS yang tewas dalam perang di Afghanistan. Pentagon dan sejumlah peneliti AS pun mulai merealisasikan cita-cita itu. Nama TALOS itu sendiri bisa juga berarti raksasa logam yang menjaga Pulau Creta dalam mitologi Yunani. Kalo dalam game ‘Skyrim’, TALOS merupakan seorang pejuang yang andal hingga akhirnya didewakan manusia yang lahir setelahnya.

Tampilan HULC, pendahulu TALOS. (Sumber: CNN)

Namun, tentara AS telah memiliki prototipe TALOS dan telah didemonstrasikan dalam sejumlah latihan gabungannya. Human Universal Load Carrier (HULC) merupakan sebuah exoskeleton minimalis yang dipasang dari badan hingga kaki. HULC dapat membantu penggunanya mengangkat beban 90 kilogram dan berjalan sejauh 20 kilometer dengan beban itu. Tugas yang cukup berat tanpa bantuan mesin itu bisa dilakukan dengan satu kali mengecharge baterainya.

Namun, riset lanjutan menunjukkan kalo tentara yang pakai exoskeleton serba besi itu justru membakar lebih banyak energi daripada waktu engga pakai. Pentagon dan Tentara AS pun mengalihkan risetnya ke exoskeleton dengan bahan lebih lembut dan realistis. Para petinggi militer pun menurunkan standarnya. Mereka engga lagi ambisius bikin baju besi tahan peluru, tapi bikin kerangka lunak yang bisa dipakai tentaranya dengan nyaman dan bantu ngangkat beban berat.

Di Jepang, exoskeleton udah digunakan dan diperjual-belikan

Prototipe Cyberdyne Exoskeleton Jepang. (Sumber: Huffington Post)

Sementara itu, exoskeleton buatan perusahaan robotik Jepang, Cyberdyne udah dipakai pegawai Bandara Haneda Tokyo. Kerangka mekanik itu digunakan buat bantu mengangkat beban berat. Gokilnya, project gabungan Haneda-Cyberdyne ini masih berjalan sejak Juli tahun lalu.

Exoskeleton dengan code-name Hybrid Assistive Limb (HAL) itu dibuat bukan untuk kebutuhan perang kayak para militer AS. Melainkan, buat ngebantu orang-orang tua di Jepang berjalan, ngangkat beban berat, tanpa bantuan anak muda yang jumlahnya makin sedikit.

Dengan kata lain, Jepang bertekad bikin tulang mekanik ini buat mengatasi krisis populasinya dan memberdayakan orang tua. Bukan cuma berisi pegas yang menambah tenaga penggunanya, HAL juga bisa mendeteksi sinyal elektrik dari otak penggunanya.

Sehingga, kontrol alat yang beroperasi dengan baterai itu bisa terasa lebih natural dan menyatu dengan anggota tubuh lainnya. Seperti halnya HULC Amerika, HAL dipakai dari badan hingga ujung kaki. Majalah Gizmag pada 2004 bilang, HAL udah diperjual-belikan buat publik di Jepang.

HAL dipakai buat bantu penyandang difabel. (Sumber: japantimes.co.jp)

Membuat alat serupa tanpa baterai

Tahun lalu, para peneliti Universitas Hiroshima dan Daiya Industry telah menemukan exoskeleton yang beroperasi tanpa baterai. Exoskeleton minimalis ciptaan dua pionir teknologi itu beroperasi menggunakan prinsip tekanan udara, pompa, dan Pneumatic Gel Muscle (PGM) yang memanfaatkan berat alami penggunanya.

Ketika penggunanya berjalan, sepatu khusus exoskeleton itu bakal memompa udara ke selang yang terhubung sama PGM di bagian dengkul dan paha. Ketika menerima tekanan udara, PGM bakal berkontraksi-relaksasi layaknya otot manusia.

Prototipe selang udara exoskeloeton ringan. (Sumber: gizmag.com)

Dipakai untuk membantu orang yang pernah diamputasi

Kembali ke Amerika Serikat. Hugh Herr, salah satu peneliti dan inovator Massachusetts Institute of Technology (MIT) sebenarnya telah mengembangkan kaki robot yang bisa merespon sinyal elektrik otak dan beroperasi layaknya kaki sungguhan. Kaki bionic itu dibuatnya untuk membantu pasien amputasi kaki menemukan kaki palsu yang cocok dan nyaman digunakan. Herr sendiri merupakan salah satu orang yang kedua kakinya diamputasi. Kini, dia pun berjalan dengan kaki palsu ciptaannya.

Namun, kaki robot buatannya sama sekali engga ditujukan buat keperluan militer, kecuali ngebantu para veteran tentara AS memulihkan diri. Kesimpulannya sih, semua hal yang dipakai untuk kebaikan pasti bakal nemuin jalan. Tapi, hal yang dibuat untuk kekerasan pasti bakal nemuin jalan buntu. (sds)

Share and Enjoy !

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.