Minggu, 5 Februari 2023

Genmuda – Larisnya film “Suicide Squad” (2016) hingga 745,6 juta dollar AS di bioskop membuat Warner Bros tergiur bikin sekuel. Tapi, jalan Warner sama sekali engga mulus karena film kumpulan penjahat itu dikritik tajem. Skornya di situs Rotten Tomatoes aja cuma 26% dari 100%.

Sutradara lamanya, David Ayer kini sedang sibuk ngegarap “Gotham City Sirens,” spin-off “The Batman” yang tampilin trio penjahat Cat Woman, Poison Ivy, dan Harley Quinn. Kesempatan itu dipakai Warner untuk milih sutradara baru dengan harapan bikin “Suicide Squad 2” keren, atau minimal hype lagi.

Nama Mel Gibson ada di paling atas daftar sutradara pilihan Warner Bros. Kedua pihak masih bernego, tapi movie goers manca negara agak sedih karena sosok kontroversial itu nongol di daftar paling atas. Biar kamu paham betapa gehgernya situasi ini, coba liat faktanya di bawah ini.

1. Biasa bikin film dengan budget relatif kecil

via moviepilot.com
Mel Gibson juga jadi pemeran utama film “Braveheart,” film termahal doi sepanjang karir (Sumber: moviepilot.com)

Warner keseringan gelontorin budget sekitar 200 juta dollar AS tiap bikin film, seperti waktu bikin “Batman v Superman” (2016) dan “Suicide Squad” (2016). Selain buat bayar aktor dan kru, duitnya juga dipakai untuk promosi gila-gilaan. Makanya, kedua film itu bisa hype.

Sementara itu, Mel Gibson belom pernah mengelola budget 80 juta dollar AS. “Hacksaw Ridge” (2016) dan “Apocalypto” (2006) yang se-epik itu doi sutradarai dengan budget 40 juta dollar AS. Film “The Passion of The Christ” (2004) yang melibatkan banyak banget properti malah budgetnya cuma 30 juta dollar AS. Film doi yang paling mahal adalah “Braveheart” (1995) dengan budget 72 juta dollar AS.

2. “Batman vs Superman is a piece of shit” – Mel Gibson

via movieweb.com
(Sumber: movieweb.com)

Karena kegedean budget tapi filmnya dapet kritik pedes itulah sebabnya Mel Gibson ngatain “Batman vs Superman” (2016) “a piece of shit.” Perkataannya terekam jelas dalam wawancara Deadline.com, November 2016. Doi yakin kalo ongkos bikin film yang terlalu besar bikin balik modal lebih sulit.

3. Kurang suka dengan superhero komik

via amazon.com
Cuplikan film “Apocalypto,” karya Mel Gibson yang juga dikritik karena terlalu sadis dan dikhawatirkan bikin orang mandang sebelah mata suku asli Amerika (Sumber: amazon.com)

Nah, di wawancara dengan Deadline.com itu, Gibson juga bilang doi engga terlalu suka sama superhero komik. “Kau tau bedanya super hero yang sebenarnya dengan yang di komik? Super hero asli tidak bertugas pakai spandex. Pasti pakaian super ketat itu mahal sekali harganya,” nyinyir doi.

4. Kebanyakan bikin adegan sadis

via mubi.com
Adegan berdarah-darah di film “The Passion of The Christ.” (Sumber: mubi.com).

Semua film yang doi sutradarai terkenal mengandung adegan sadis. Pemerkosaan, pembunuhan, bahkan pembantaian biasa muncul. Kesannya sih, skill doi bakal cocok diterapin di “Suicide Squad” yang notabene nyeritain kisah komplotan penjahat. Hanya aja Warner Bros maksa David Ayer menyutradari supaya “Suicide Squad” tetep bisa dinikmati remaja dan anak-anak.

5. Agak rasis

via gizmodo.com
Kalo terpilih jadi sutradara, semoga Gibson engga ngatain Will Smith dan godain si Margot Robbie. (Sumber: gizmodo.com).

Kepribadian Mel Gibson yang cenderung rasis. Doi pernah ngomong dengan lantang kalo kaum-kaum agama tertentu adalah penyebab semua perang di dunia. Udah gitu, doi sempet ditangkep karena menyetir dalam keadaan mabuk. Pernah juga ngatain kaum kulit hitam dengan sebutan “Nigger” dan manggil polwan dengan sebutan “sugar tits.” Dua istilah yang sangat kurang ajar.

Padahal, film “Suicide Squad” diisi sosok multi kultural dan berasal dari berbagai etnis. Skill doi emang terbukti karena semua filmnya berhasil masuk nominasi Oscar. “Breaveheart” malah sampai bawa doi jadi sutradara terbaik.

Akan tetapi, apakah Warner udah se-desperate itu hingga rela ngerekrut orang yang sekontroversial Mel Gibson? Kenapa engga pilih sutradara lain, seperti Daniel Espinosa “Safe House” (2012), Ruben Fleischer “Zombieland” (2009), atau Jonathan Levine “Warm Bodies” (2013) yang juga lagi dilirik? Tulis komentar kamu di bawah ini, ya. (sds)

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.

Leave a Response