Senin, 27 Juni 2022

Genmuda – Meski perilisan film ‘Racthet and Clank’ harus molor sebulan dari rilis games-nya di Indonesia, nyatanya hal ini engga membuat sejumlah penonton (yang udah kenal di video games) penasaran buat menyaksikan petualangan Lombax satu ini.

Diceritakan Ratchet (James Arnold Taylor) seekor Lombax yang bekerja sebagai mekanik di bengkel Grimroth (John Goodman). Suatu hari, alien bernama Drek (Paul Giamatti) merencanakan membuat sebuah planet baru atas bantuan ilmuan gila, Dr. Nefarious (Armin Shimerman).

Cerita yang umum, namun banyak celah

Dua alien gila ini pun berusaha menghancurkan beberapa planet, bahkan planet di bawah kekuasan Galactic Rangers. Kejadian ini pun memaksa para superhero antariksa mencari kandidat baru buat bergabung bersama Galactic Rangers guna mencegah ulah Drek.

Di lain pihak, Drek mencoba mencari tandingan Galactic Rangers dengan membangun pasukan robot guna melancarkan aksinya. Sialnya salah satu robot, Clank (David Kaye), mengalami cacat produksi dan berhasil melarikan diri untuk menginformasikan rencana jahat Drek kepada para Galactic Rangers. Di sinilah ia kemudian diselamatkan oleh Ratchet.

(Sumber: cinemamanagementgroup)

Tema cerita ‘zero to hero’ dalam film seolah menjadi cukup biasa dan mudah ditebak oleh para penonton awam. Terlebih lagi setiap adegan dan dialog dari naskah film animasi ini terasa cetek atau kurang bisa dieksplor. Wajar pada akhirnya kalau film ini kurang greget.

Bahkan deretan nama pengisi suara lainnya seperti, Bella TroneRosario Dawson, sampe Sylvester Stallone, juga belum mampu menghidupkan tiap karakter yang mereka dubbing. Semuanya keliatan karena banyaknya celah dari naskah film yang kurang matang. (Atau terkesan main aman dari cerita original dari game).

Kurangnya penyampaian emosi kepada penonton hingga banyaknya lompatan adegan yang engga dibuat mengalir seolah menjadi bumerang bagi ‘Racthet and Clank’. Pun minimnya scoring film jadi kelemahan yang wajib penulis cantumkan. Jadi kalau dibandingkan film animasi kekinian, tentunya semua penilaian tersebut bisa menjadi PR besar bagi Kevin Munroe dan Playstation Originals.

Terlalu dipaksakan

Walaupun ini adalah film animasi pertama di bawah naungan Playstation Originals, namun mereka terkesan seperti memaksakan ‘Ratchet and Clank’ masuk ke layar lebar. Bisa dimaklumi karena budgetnya yang minim, engga gampang menggarap franchise game yang udah punya nama besar ke dalam bentuk film.

(Sumber: The Verge)

Pastinya tetap ada plus-minus dari pengembangan media video games menjadi sebuah film, atau juga sebaliknya. Tapi kalau Playstation Originals emang benar-benar serius terjun ke ranah layar lebar pastinya masih banyak pekerjaan yang harus mereka kejar. Meski tetap fokus mereka ke video games, jangan sampe ekspektasi penggemar hilang karena adanya film dari games mereka.

Hematnya, penulis merasa ‘Ratchet and Clank’ engga lebih dari versi uncut scene dari video games terbarunya. Buat penonton yang belum pernah memainkan game-nya mungkin cukup terhibur dan bisa mengenal secara cepat, sedangkan buat para gamer yang udah pernah main kayaknya tetep lebih asik coba gameplay-nya ya.

 

Share and Enjoy !

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.