Senin, 10 Desember 2018

Genmuda – Masa remaja pada umumnya emang aneh. Usia belum kepala dua, fisik belum berkembang sepenuhnya, dan pengalaman hidup masih seputar sekolah juga putus cinta, tapi perilaku pengen kayak orang dewasa.

Gak usah muna, deh. Semua orang (pernah atau sedang) ngerasain serunya masa-masa itu. Di antara segelintir dampak positif kelakuan remaja supaya menonjol di antara temen sebaya itu ada juga dampak negatifnya.

Kalo dilakuin setelah dewasa nanti, paling enggak setelah berusia minimal 17 tahun, beberapa perilaku di bawah ini pasti terasa banget manfaatnya. Coba perhatiin, ya. Biar gak salah-salah.

1. Diet ketat

via: Google
Muka kamu saat kegep makan mie instan padahal bersumpah mau diet. (Sumber: Istimewa)

Kegiatan mengatur pola makan, atau yang lebih sering dikenal secara umum dengan istilah diet, bermanfaat bagi orang-orang yang telah melewati masa pertumbuhan untuk jaga kesehatan dengan menstabilkan berat badan.

Sementara buat remaja, mendingan jangan diet. Kecuali, menderita obesitas parah dan dilakuin sesuai arahan dokter. Serius. Soalnya, para remaja masih butuh banyak nutrisi. Kelebihan badan sedikit masih bisa dikurangi kok dengan perbanyak aktivitas fisik.

2. Angkat beban

via greatist.com
Setelah menginjak 17 tahun, silakan deh olahraga dari subuh sampe subuh lagi di gym. (Sumber: greatist.com)

Meski aktivitas fisik itu penting, ada baiknya pikir dua kali buat angkat beban. Alasannya bukan karena angkat beban bikin remaja susah tinggi, kemudian berakhir sebagai orang dewasa yang pendek. Itu mitos.

Tapi, karena kemungkinan menderita stres otot akibat angkat beban yang gak diatur intensitasnya. Kalo pengen punya badan bagus di usia remaja, coba aja lakuin jenis-jenis olahraga calisthenic kayak Fahri M Dahlan, si cowok paling tangkas di Indonesia 2017.

3. Mengendarai kendaraan bermotor

hikmah terselubung naik bus kota_5
Kalo ditilang silop baru tau rasa kamu. (Sumber: Depok Tren)

Gak ada yang bakal ngebantah pendapat soal teknologi, dalam hal ini adalah kendaraan bermotor, mempermudah hidup umat manusia. Sama kayak gak ada yang bantah kalo anak remaja tuh belum waktunya mengendarai kendaraan bermotor.

Duh, penyebabnya banyak banget. Mulai dari kecenderungan remaja berbuat nekat, emosi belum stabil, hingga fakta bahwa tiap remaja pada dasarnya merupakan pengemudi tak berpengalaman.

4. Jajan ponsel flagship

via cnet.com
MP White JR, seleb Inggris yang pertama menjajal iPhone X di London. (Sumber: cnet.com)

Ada perbedaan besar antara kata membeli dengan jajan. Membeli itu dilakuin dengan kesadaran penuh, atas usaha besar, buat memenuhi kebutuhan atau menunaikan suatu tujuan.

Sementara itu, jajan berarti kegiatan iseng yang dilakuin cuma karena bisa. Sekarang gini, deh. Anak remaja buat apa sih punya ponsel flagship alias ponsel paling canggih suatu brand? Buat facetime? Buat upload meme?

Bukan buat bisnis, mendesain rancang bangun jembatan, atau animasi sekelas Pixar, kan? Emangnya ponsel kelas menengah aja gak cukup? Daripada boros, mending duitnya ditabung buat masa depan.

5. Menikah

via Istimewa
Setelah menikah gak ada kata “putus” tapi ada kata “cerai.” Tanggung jawabnya lebih gede. (Sumber: Istimewa)

Sori-mayori nih kalo kamu berkata lain. Tapi, Genmuda.com mengutip pernyataan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), berbunyi, “Usia pernikahan ideal adalah 21-25 tahun.”

“Secara biologis dan psikologis, usia 20-25 tahun bagi perempuan dan 25-30 adalah waktu yang pas untuk menikah. Pada usia itu, kemampuan berpikir sudah dewasa dan organ reproduksi sudah siap,” tulis laporan BKKBN.

Jadi, usia 15 tahun tuh bukan waktu ideal menikah. Itu adalah waktunya kamu punya banyak teman, jadi anggota OSIS, atau malah main game online. Bukannya ngurusin anak. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.