Senin, 10 Desember 2018

Genmuda – Butuh nyali gede buat seorang anak muda buat berani berkarier di dunia seni dalam usia relatif muda. Bayangin aja, begitu mendengar kuliah di seni rupa, mungkin enggak bakalan masuk jurusan favorit buat calon mertua. Jangankan calon mertua, orangtua sendiri mungkin bakalan heran dan bertanya:

“Emang lo mau jadi apa?”

Pertanyaan sekaligus rintangan itu pernah dilaluin sama seniman muda, Naufal Abshar. Cowok 24 tahun ini memutuskan studi ke negara tetangga, buat jadi seorang pelukis ‘tawa’. Walau sekarang karyanya sering nongol di berbagai galeri seni dan jadi buruan sejumlah kolektor seni dunia, perjalan doi relatif enggak muda, gengs!

Berbagai pekerjaan seperti penjaga galeri, packing lukisan, hingga mengirim lukisan buat kolektor seni, pernah dicobain Naufal demi menuntunnya nemuin passion pekerjaannya sebagai seorang seniman muda.

Beberapa waktu lalu Genmuda.com akhirnya berkesempatan buat ngobrol bareng Naufal di studionya. Gak perlu basa-basi lagi, langsung aja simak wawancaranya di bawah ini:

Genmuda: Terakhir kita ketemu di Tempo Media Week, sekarang lo lagi sibuk apa nih?

Naufal: Keseharian gue sibuk jadi pelukis. Selain itu gue juga ngerjain beberapa project yang berhubungan sama seni kayak instalasi, mural dan lain-lainnya. Jadi hampir kebanyakan ngelukis, persiapan pameran, terus sama lagi pengen ngebangun content creator tapi di bidang seni dengan beberapa seniman di Jakarta dan luar negeri.

 

Genmuda: Apa yang bikin lo pengen jadi seorang pelukis?

Naufal: Sebenernya panggilan hati. Saat pertama kali lulus kuliah gue termasuk cukup bingung karena keterampilan gue cuma bisa ngegambar. Tapi gue coba ngegali lagi, ada apa aja sih di bidang seni.

Saat kuliah di Singapore dan sempet pergi ke London, gue ngerasain juga kerja di beberapa tempat kayak di galeri, pokoknya segala sesuatu yang berhubungan sama dunia seni lah. Jadi kayak semacam ‘backup plan’ buat gue.

“Wah, ini passion gue!”

Cuma along the way, gue sempet kerja di art service company dimana (perusahaan) itu bergerak di bidang packing company buat ngirim lukisan. Dari situ gue akhir ke tempat-tempat kolektor dan galeri seni. Setelah itu gue ngelihat, “Wah ini passion gue!”

Terus kebetulan salah satu owner dari art service company itu juga punya galeri seni, —yang sekarang merepresentasikan karya gue. Di situ gue bilang, “test case aja deh karya gue dipamerin bisa enggak?”, dan ternyata feedbacknya bagus dan cukup banyak karya-karya gue yang laku dan dikoleksi oleh kolektor.

Dari situlah gue ngerasa, “Jangan-jangan ini panggilan?” dari situ akhirnya gue mulai ngelanin profesi sebagai seniman.

©Genmuda.com/2017 Liki
Naufal menunjukan salah satu konsep karya yang pernah doi buat saat di wawancarai oleh Genmuda.com ©Genmuda.com/2017 Liki

Genmuda: Sebelum lo kuliah di LASALLE Collage di Singapura, apa sih rintangan terbesar lo?

Naufal: Rintangannya cukup mantep sih, karena awal-awal SMA pun gue emang kerjaannya gambar, bahkan kertas soal UN aja gue gambar. Sampe adalah beberapa temen gue ngeledekin, ya pokoknya bad negativity lah.

Cuma akhirnya gue bilang sama bokap-nyokap, “gue mau masuk seni rupa.” Mereka kayak kaget, “Lo yakin?” Mereka takut karena konototasi seniman itu ya seperti itu; Aneh lah, kerjanya gak tetap lah.

Cuma gue bilang ke mereka kalo itu passion gue. Terus mereka mencoba memahami dan akhirnya bantu gue untuk konsultasi sama salah satu kerabat kita yang kebetulan seniman senior dan cukup dihormati, yaitu Pak Sunaryo (pemilik Selasar Sunaryo-red.) di Bandung.

Mereka coba nanya, “Si Naufal bener gak sih nih bisa gambar atau cuma ikut-ikutan doang?” Jujur saat itu gue gak bisa gambar bagus atau realis. Pas gue kasih lihat beberapa gambar gue ke beliau, Pak Surnaryo bilang kalo gue cukup berbakat.

 

Genmuda: Lantas kenapa lo lebih memilih kuliah di Singapura?

Naufal: Tadinya pilihannya ITB cuma karena di sana seni rupa itu harus IPS sedangkan gue anak IPA, gue gak bisa kalo harus belajar lagi materi IPS. Setelah kita (Naufal, Orangtua, dan Pak Sunaryo-red.) diskusi, kita pilihlah di LASALLE Singapore. Lagi pula selama di sana gue gak cuma belajar seni rupa, tapi juga lebih belajar marketingnya, bisnisnya, sampe ngebentuk networking. 

Tapi bukan karena di Indonesia jelek, bukan. Seni di Indonesia jauh lebih bagus kok, cuma ada beberapa pengalaman hidup yang gak bisa gue dapet. Kayak gue survive di negara orang sendirian, terus di sana mereka jago juga packagingnya dan marketingnya, jadi lo gak cuma jadi artist tapi juga diajarin jadi artpreneur. 

 

Genmuda: Terus perbedaan apa yang bisa lo liat dari dua negara tersebut dalam mengapresiasi karya seni?

Naufal: Mereka (Singapura) lebih terbiasa dari seni, karena pemerintahnya menerapkan pelajaran seni itu gak cuma belajar gambar atau mewarnai. Tapi ada juga pelajaran mengapresiasi karya seni, mungkin itulah yang ngebedain kulturnya dengan Indonesia.

Sekarang di sini (Indonesia) seni emang cukup naik, namun ada juga yang salah kaprah dalam mengapresiasinya, misalnya karya dipegang, foto-foto, dan itu kan sesuatu yang brutal.

 

Genmuda: Sebagai seniman, gimana pandangan lo soal prilaku salah kaprah itu?

Naufal: Ada good and bad. Gue ngerasa cukup senang karena seni cukup diapresiasi di kalangan anak muda dan orang awam, jadi gak cuma komunitas seni doang. Tapi gue juga enggak bisa menyalahkan mereka, karena seperti yang gue bilang, di Indonesia pendidikan seni itu sangat kurang.

Kita kaget dengan arus seni. Belum lagi sekarang banyak influencer dan selebriti yang berusaha mengenal seni. Dan karena sosial media semuanya booming, jadinya mungkin mereka kayak excited. 

Mungkin ya, mereka pikir karya seni itu cuma subjek untuk foto-foto di sosial media. It’s very sad sih kalo buat gue. Apalagi kan karya-karya itu banyak yang historical dan valuenya cukup tinggi. Jadi sedih banget kalo sebuah karya cuma jadi background foto cuma buat feed sosial media lo doang.

“Seni itu menggambarkan sesuatu yang tidak nyata di dunia nyata.”

Genmuda: Lo sendiri belajar gambar secara otodidak atau akademik?

Naufal: Gue belajar sendiri sih, sekolah seni itu emang gak pernah ngajarin kita gambar. Ada dasarnya tapi semuanya kita belajar sendiri. Satu hal yang gue inget, seni itu mengambarkan sesuatu yang tidak nyata di dunia nyata.

 

Genmuda: Bagaimana peran medias sosial buat ngebantu promosi para seniman buat lo?

Naufal: Gak bisa dipungkiri kalo sosial media ngebantu, but again, “What kind of seniman are you?” apakah seniman sosial media atau seniman di dunia nyata. Biarlah karya yang bicara. Lagi pula yang menjudge lo seniman atau bukan adalah orang lain, bukan diri lo sendiri.

 

Genmuda: Kapan pertama kali lo mengikuti pameran besar?

Naufal: Pertama kali secara profesional di Suntec, Singapura. Tapi sebagai seorang mahasiswa pas di kampus.

©Genmuda.com/2017 Liki
Beberapa lukisan tawa karya Naufal Abshar ©Genmuda.com/2017 Liki

Genmuda: Ngomongin karya lo nih, kenapa memilih ‘tawa’ sebagai tema utama karya lo?

Naufal: Gue terinspirasi dari lingkungan sekitar di perkotaan. Gue ngelihat orang-orang kayak pada stres aja, kerja setiap hari dengan penuh tekanan. Gue ngerasa mereka butuh humor. Dan humor itu elemennya banyak banget. 

Humor itu memproduksi tawa, tapi gak semua tawa lahir dari humor. Kayak kita ngetawain orang, atau ketawa licik kepada lawan kita, jadi banyak elemennya. Gue coba deh mengambil elemen itu untuk menjadikanya kritik sosial kita.

 

Genmuda: Ceritain dong soal karya lo yang bisa dibeli sama berbagai kolektor seni dunia?

Naufal: Itu cukup seneng banget sih, saat pameran di Suntec itu gue lumayan stres, karena gue salah satu seniman muda paling ‘bocah’ dari semuanya. Bangga ada, stress juga ada.

Bayangin aja, pameran itu ada empat hari, tiga hari pertama karya gue engga ada yang liat. Sempet gue mikir, “Udah ah gue gak mau jadi seniman.” Tapi orangtua dan keluarga gue cukup support gue, mereka dateng dan kasih gue motivasi.

Tiba-tiba datenglah salah satu sahabat gue sama pacarnya. Setelah kita ngobrol-ngobrol, pihak galeri panggil gue, dan bilang kalo ada yang tertarik sama lukisan gue, dia orang Afrika Selatan. Dia dateng ketemu gue ngobrol-ngobrol, dan dia bilang pengen beli karya gue.

Pas gue pengen balik lagi ketemu temen gue itu, dia udah gak ada, tapi udah ke meja reception. Gue tanya sama dia, “Lo ngapain?” dan pacar temen gue itu bilang, “Iya gue kesel sama orang itu, karena gue lagi ngobrol sama lo diganggu, jadi yaudah gue beli karya lo aja.”

“Dunia seni itu kayak gambilngnya ada, seru juga ya.”

“What?” jadi bisa dibayangin pada saat hari terakhir ada dua orang kolektor yang beli karya gue. Terus pecah telor lagi besoknya, ada orang yang beli karya gue via telpon doang. Saat itu gue juga mau pulang ke Indonesia bareng keluarga, saat itu pihak galeri nanya berapa harganya, gue ngasal aja sekian.

Eh, pembelinya setuju dan dia pengen ketemu sama gue. Gue bingung aja, nih orang kan belum pernah liat karyanya, tapi main beli aja. Nah, di situ kayak ngeyakinin gue lagi, “Dunia seni itu kayak gambilngnya ada, seru juga ya.”

 

Genmuda: Terus gimana cara lo mematok value dari lukisan lo?

Naufal: Kalo gue ngelihat harga Singapura, di sana gue banyak juga nanya-nanya berapa sih harga pemula dan lain-lain. Dan saat ada karya kita yang laku, biasanya tahun berikutnya akan naik tapi gak terlalu banyak.

 

Genmuda: Total udah berapa karya yang udah lo buat?

Naufal: Kalo lukisan mungkin di bawah 50-an, selebihnya banyak juga karya-karya seni instalasi hingga mural.

©Genmuda.com/2017 Liki
Naufal sedang menceritakan arti dari salah satu lukisannya ia beri nama “Pembalap Gadungan” ©Genmuda.com/2017 Liki

Genmuda: Kalo kita ngelihat karya ini (lihat gambar di atas), apa yang mau lo sampein?

Naufal: Jadi nama konsep lukisan ini “Pembalap Gadungan” jadi It’s about artificial karena jaman sekarang kan serba showing off something. Nah, kenapa gue pilih keledai karena binatang ini unik dan selalu jatuh di lubang yang sama. Dan kenapa pembalab? Karena di situ ada tulisan F4, dimana itu level paling rendah tapi gayanya kayak sok pembalap F1.

Ya itulah, (arti karya ini) kadang-kadang orang yang beneran pembalap, seniman, atau apapun profesi mereka cendrung humble. Tapi orang-orang yang baru biasanya gayanya selangit.

 

Genmuda: Ada gak kemungkinan lo gak ngelukis tentang tawa, mungkin marah atau sedih?

Naufal: Ada. Karena lukisannya itu gak melulu soal orang ketawa ada juga posisi orang yang sedang ditertawakan dengan ekspresi kesal atau semacamnya. Jadi banyak elemen yang bisa dimainin sih.

 

Genmuda: Siapa pelukis yang jadi influence lo?

Naufal: Dari luar ada David Hockney, Jean Michel Basquiat, Pablo Picasso, Arin Sunaryo, terus Nyoman Masriadi, dan Heri Dono.

 

Genmuda: Tantangan terberat lo sebagai seorang seniman?

Naufal: Diri gue sendiri. Karena susah juga nemuin mood kan. Kalo lagi mood, gue bisa aja ngerjain lukisan dua-tiga hari, tapi kalo lagi enggak mood bisa berbulan-bulan. Dan itu kenapa setiap karya punya nyawa dan energi. Itu dia yang menjadi sulit.

 

Genmuda: Apa peran keluarga buat karier lo?

Naufal: Inspirasi. Kalo buat gue, karya terbaik itu lahir dalam keadaan sakit atau down, karena itu percikannya.

 

Genmuda: Ada anggapan terberatnya jadi seorang seniman itu adalah penghasilan yang gak tentu, terus gimana cara lo mengatasinya?

Naufal: Awal-awal emang cukup sulit. Sekalinya gue ngejual lukisan dengan cukup besar valuenya, bisa juga selama enam bulan gue gak dapet apa-apa. Gue stres man, gue gak bisa selamanya kayak gini.

Waktu belum mantep jadi full time artist buat ‘survive’ gue juga ngerjain project lain. Makanya kreatif itu nomor satu. Kita harus kreatif nyimpen uang, dapetin uang, terus gimana muterinnya. Dan yang gak kalah paling penting, jangan malu ngelakuin apapun, tapi kita juga tetep harus punya harga diri.

 

Genmuda: Eniwei kepo nih, kenapa sih sebuah karya seni kayak lukisan sering dianggap seni yang mahal?

Naufal: Semua ada levelnya, tapi sebenernya itu semua cuma masalah persepsi aja. Menurut gue, yang mahal itu kan apresiasinya. Karya seni kan cuma ada satu di dunia. Seniman kerjain itu pake tangannya sendiri, dan saat senimannya meninggal ya engga akan ada lagi. Beda sama desain digital yang bisa dicopy atau perbanyak.

Dan kenapa kolektor berani beli suatu karya mahal? Itu karena mereka melihat perjuangan seniman itu sendiri dalam karyanya. Semuanya butuh proses, gak cuma melulu karya lo harus bagus, tapi juga lo (senimannya) itu kayak gimana. Proses itulah yang mahal.

©Genmuda.com/2017 Liki
©Genmuda.com/2017 Liki 

Genmuda: Apa yang biasa lo lakuin kalo gak ada inspirasi buat ngelukis?

Naufal: Gue main game atau traveling. Karena inspirasi itu gak bisa dipaksain. Cuma yang paling ngeboots buat dapetin inspirasi adalah jalan-jalan sih.

 

Genmuda: Tiga hal yang gak banyak orang tau dari di Naufal Abshar apa?

Naufal: Gue geek banget sama game, gue geek juga sama mainan, dan setiap tidur itu gue selalu ngigo.

 

Genmuda: Apa pesen buat Kawan Muda yang pengen memulai karier kayak lo?

Naufal: Follow your heart and just be yourself, but not being selfish. Dengerin apa kata orang, karena kita hidup berdampingan di masyarakat. Kalo ada pendapat yang bagus ya itu yang lo dengerin. Work hard and work smart. Dan tentunya jangan lupa berdoa. Karena keberuntungan itu bisa didapetin dari lo berdoa, beramal, dan berbuat baik.

 

Belajar dari Naufal, gak ada salahnya buat Kawan Muda tanya lagi sama hati kamu paling dalem, “Gue tuh maunya jadi apa sih?”. Karena masa muda cuma berlangsung sekali, jadi jangan disia-siain ya, gengs! Dan kalo kamu kepo sama karya-karya Naufal langsung aja follow dan pantengin Instagramnya.

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.