Rabu, 21 Agustus 2019

Genmuda – Kisah Tarzan dari waktu ke waktu emang seakan engga ada abisnya buat ditampilin di layar lebar. Kali ini, sebuah versi paling baru dan paling modern pun bakal tayang di bioskop dengan judul ‘The Legend of Tarzan’.

Tayang pada 1 Juli mendatang, ‘The Legend of Tarzan’ merupakan film action adventure terbaru yang kembali ngebahas tentang karakter fiksi karya Edgar Rice Burroughs. Film garapan sutradara David Yates ini dibintangi oleh Alexander Skarsgård, Margot Robbie, Samuel L. Jackson, Christoph Waltz, Djimon Hounsou, dan Jim Broadbent.

Namun demikian, engga kayak film-film Tarzan pada umumnya, ‘The Legend of Tarzan’ justru lebih fokus pada kehidupan Tarzan (Alexander Skarsgård) bertahun-tahun setelah doi ninggalin hutan Afrika, di mana doi dibesarin oleh seekor kera besar. Bersama istrinya Jane Porter (Margot Robbie), doi kini ngejalanin kehidupan sebagai seorang bangsawan bernama John Clayton III, Lord Greystoke di London.

Hingga suatu hari, John diundang oleh Raja Leopold dari Belgia buat kembali ke Kongo sebagai utusan perdagangan House of Commons. Walau awalnya sempat ragu dan nolak undangan tersebut, doi akhirnya mau pergi ke sana dan ujung-ujungnya malah harus berhadapan dengan kekejaman utusan Raja Leopold, Kapten Léon Rom (Christoph Waltz).

Motif yang lebih kuat

Salah satu adegan Tarzan bersama George Washington Williams (Sumber: Istimewa)
Salah satu adegan Tarzan bersama George Washington Williams (Sumber: Istimewa)

Dengan tujuan buat ngungkapin masalah perbudakan di Kongo di akhir abad ke-19, bisa dibilang karakter Tarzan di ‘The Legend of Tarzan’ punya suatu motif yang lebih kuat daripada sekedar gelantungan dari satu pohon ke pohon lain. Doi pun kali ini dibantu oleh George Washington Williams (Samuel L. Jackson), seorang prajurit Afrika-Amerika yang di kehidupan nyata memang pernah ngirimin surat terbuka ke Raja Leopold terkait perbudakan di Kongo.

Yang lebih menariknya lagi, kali ini Jane engga digambarin sebagai tipikal cewek yang lagi dalam kesusahan kayak di film-film Tarzan lainnya. Jane di ‘The Legend of Tarzan’ jauh lebih mandiri dan penuh semangat. Saat dalam bahaya, doi bakal ngelawan alias engga diam gitu aja sampai diselamatin Tarzan.

Bukan cuma itu, sebagian besar karakter warga suku Afrika di ‘The Legend of Tarzan’ pada dasarnya juga engga sekedar bertindak sebagai pelengkap dengan jadi budak atau musuh aja. Justru, sejumlah adegan seru dan klimaks di film ini tercipta saat Tarzan bekerja sama dengan mereka.

Pemain saling ngelengkapin

Salah satu adegan Tarzan dan Jane (Sumber: Istimewa)
Salah satu adegan Tarzan dan Jane (Sumber: Istimewa)

Sementara itu, di samping motif yang kuat, yang turut jadi nilai tambah buat ‘The Legend of Tarzan’ adalah para pemainnya. Hal ini terutama berlaku banget buat Robbie dan Waltz. Sayang, keduanya seakan masih belum dapat cukup ruang dari Yates buat ngembangin karakter masing-masing.

Lain halnya dengan Skarsgård dan Jackson. Secara keseluruhan, keduanya memang bisa nampilin karakter mereka masing-masing sama baiknya dengan Robbie dan Waltz. Tapi, di satu sisi Skarsgård dengan penampilan fisiknya yang super banget masih terasa kurang ekspresif dalam nunjukin dilema yang dihadapi Tarzan, sementara Jackson dengan kalimat-kalimat pengundang tawanya masih engga jauh beda dari peran-peran doi selama ini.

Terlepas dari itu, engga bisa diungkiri kalau hal yang cukup menonjol dan ngasih angin segar di ‘The Legend of Tarzan’ adalah chemistry di antara Skarsgård dan Robbie. Ikatan dan masalah yang terjadi di antara keduanya bahkan terasa jauh lebih nyata dari pada efek-efek CGI yang ada di sepanjang film ini.

Risiko besar, tapi nanggung

Salah satu adegan Tarzan dan warga Suka Kuba (Sumber: Istimewa)
Salah satu adegan Tarzan dan warga Suka Kuba (Sumber: Istimewa)

Intinya, Yates bisa nampilin sisi lain kehidupan Tarzan dengan ngegunain pendekatan yang lebih kekinian di ‘The Legend of Tarzan’. Akan tetapi, pendekatan tersebut jadi agak timpang saat flashback yang ditampilin di film ini lama-kelamaan justru kayak nyeret dan ngelambatin keseluruh adegan yang ada. Dengan begitu, Yates jadi terkesan engga konsisten dengan pendekatannya sendiri.

Selain itu, penggunaan unsur-unsur sosial politik sejarah kayak perbudakan sebenarnya bisa berakibat fatal pada ‘The Legend of Tarzan’. Untung aja di film ini benang merahnya masih bisa kebaca dengan cukup jelas, khususnya berkat kehadiran karakter George Washington Williams.

Dengan demikian, ‘The Legend of Tarzan’ sebenarnya bukanlah interpretasi yang buruk buat kisah Tarzan, walau di sisi lain film ini juga masih belum bisa dibilang sebagai interpretasi yang sesuai dan sempurna. Meski begitu, buat ngisi malam Minggu dan libur panjang kamu, film ini tetap bisa jadi salah satu pilihan yang menarik. Selamat nonton, Kawan Muda!

(sds)

Comments

comments

Gabrielle Claresta
Eccentric daydreamer