Kamis, 3 Desember 2020

Genmuda – Penyanyi Morrissey buka konser di Senayan, Jakarta Pusat, Rabu malam (12/10) dengan penampilan menghebohkan. Sepanjang menyanyikan 19 lagu, doi juga sebarin pesan sosial seputar perdamaian dunia dan kecintaan terhadap lingkungan hidup.

Pas Genmuda.com dateng ke tempat acara, penonton dari lintas generasi udah memadati areal meski konsernya belum di buka. Sebagian dari mereka juga ada yang ngantre tiket dan duduk santai di depan pintu gerbang. Bukan cuma dari Jabodetabek gaes, penontonnya berasal dari luar kota loh.

Misalnya Setyo yang bela-belain dateng dari Bandung, ninggalin bisnis katering onlinenya demi mantengin mantan anggota band The Smiths itu. “Nanti jam 2 pagi gue harus balik lagi ke Bandung naik Travel. Kerjaan engga bisa ditinggal,” ujar doi sambil nongkrong bareng Genmuda.com.

Konsernya dimulai

via KiosPlay
(Sumber: dok. KiosPlay)

Sekitar pukul 18.00 WIB, penonton mulai antre dengan gelisah, engga sabar nungguin konser yang dijadwalin mulai sekitar 19.30 WIB. Penjagagan konser ini pun sangat ketat karena semuanya perlu diperiksa dua kali di dua gerbang masuk berbeda. Semua penonton juga engga boleh bawa rokok dan makanan berdaging demi menghargai idealisme Morrissey yang cinta banget sama lingkungan.

Panggung yang udah disiapin tim KiosPlay selaku penyelenggara dilengkapin tiga layar videotron. Dua layar di kanan-kiri panggung buat nampilin close-up Morrissey dan layar di tengah panggung buat muter video presentasi beberapa lagu penting.

Videotron itu nampilin cuplikan video klip band jadul macam Ike Turner dan Sex Pistols sebelum artis utamanya naik panggung. Uniknya, penonton jadi terbawa suasana waktu nonton video itu. Mereka tepuk tangan pas lagunya berakhir terus ketawa sendiri karena sadar kalo mereka cuma nontonin layar digital.

Selanjutnya ketukan drum lagu ‘Suedehead’ berkumandang. Suasana langsung pecah. Penonton jejingkrakan, nama Morrissey diteriakin di mana-mana, dan fans berat yang baru dateng langsung berdesakan mendekat ke depan panggung.

Penonton VIP yang di depan panggung dan Reguler yang agak jauh di belakang pun nyanyi bareng Moz sepanjang lagu. Nyanyian penonton makin bersemangan waktu ‘Alma Matters’ dibawain, yang kemudian dinetralisir sama lagu ‘Everyday Is Like Sunday’ diiringi goyangan santai.

Tanpa banyak menunda, Moz langsung menghajar penonton sama ‘Kiss Me A Lot.’ Sebagian penonton cewek langsung mengacungkan bouquet bunga yang dibawanya. “Terima kasih,” balas Morrissey di akhir lagu itu dengan logat Bahasa Indonesia yang lucu.

Lagu ‘Speedway,’ ‘Ouija Board Ouija Board,’ dan ‘Let Me Kiss You’ kembali diberondong tanpa banyak jeda atau intermezo dengan penonton.

Mulai ngasih kritik

via KiosPlay
(Sumber: dok. KiosPlay)

Pesan sosial dari Morrissey baru keliatan di lagu kedelapan. “Do you like Donald Trump?,” tanyanya. Penonton kompak teriak NO! Ada juga yang mengangkat jempot terbalik sambil mencemooh Capres Amerika Serikat itu. Moz menyeringai, terus ngomong kalimat nyinyir khas doi, “Did you know, world peace is none of your business!”

Lagu ‘World Peace Is None Of Your Business’ dimainkan buat mengeritik pemerintah dunia yang cuek sama perdamaian. Videotron di tengah panggung nampilin gambar seorang anak kulit hitam nunjukin tulisan Rise Up! di kedua telapak tangannya.

Penonton mulai mikir. Lagu selanjutnya juga masih bertemakan perdamaian dunia. ‘I’m Throwing My Arms Around Paris’ dibawain supaya kita engga lupa sama aksi teror yang pernah menyerang Ibu Kota Prancis itu. Abis itu lagunya ngepop lagi.

‘You’re the One For Me, Fatty’ dan cover lagunya Ramones ‘Judy Is a Punk’ bikin penonton kembali jejingkrakan liar. Suasana kembali menenang ketika lagu ‘Jack the Ripper.’ Asap dari smoke machine keluar menyelimuti Moz dan pemain bandnya.

Penonton cuma ngeliat siluet doi dari balik gas yang menghadirkan nuansa mistis. Atmosfer penonton yang lagi fokus dengan pemandangan itu dimanfaatin buat  kembali ngasih pesan moral lewat lagu selanjutnya.

‘Ganglord.’ Di lagu itu, videotron tengah nampilin cuplikan kekejaman oknum polisi (police brutality). Moz seolah-olah pengen ngomong kalo bahkan orang bersalah dan kriminal sekalipun baiknya diperlakukan layaknya manusia. Engga perlu disiksa.

Lagu ‘First of the Gang to Die’ setelah ‘Ganglord’ jadi semacam jembatan ke lagu kritik lainnya, ‘The Bullfighter Dies.’ Di lagu itu, Moz pengen mengajak orang supaya engga membunuh hewan sekadar buat hiburan seperti yang terjadi di kontes Matador Spanyol.

Pesan terakhir

via KiosPlay
(Sumber: dok. KiosPlay)

Moz keliatan lelah. Kemeja birunya udah basah karena keringat. Jeda antar lagu kini dipakai buat menarik beberapa napas panjang. Seorang penonton di daerah VIP berteriak menyemangati Moz tapi ucapannya engga kedengeran jelas. “Oh, I don’t know what you’re saying. But you sound very passionate. Which is good enough for me,” balas sang artis.

‘The World Is Full of Crashing Bores,’ ‘How Soon is Now?,’ dan ‘You Have Killed Me’ langsung dihajar. Setelah itu, Moz menarik napas agak lama berhubung lagu selanjutnya merupakan pemungkas konser doi di Jakarta.

As the world changes, as well as how we run the world, please never kill animals, birds or anything for any reason. Enough! Enough! Enough!,” kata Moz dengan tegas. Penonton khidmat memperhatikan. Lagu ‘Meat is Muder’ dimainkan dengan emosi yang terasa.

Videotron tengah panggung menampilkan cuplikan cara kerja pusat penjagalan hewan menangani hewan-hewan konsumsi, baik itu ayam, sapi, domba, bahkan ikan. Mereka dibanting, dipiting, digorok lehernya, dibiarkan mati kehabisan darah begitu saja, kemudian mayatnya dilempar lagi ke mesin pengolah tanpa etika sedikitpun.

Biar pesan di lagu dan videonya makin nyata, videotron utama munculin pesan yang kalo dalam bahasa Inggris bunyinya gini, “What is your excuse now? Meat is Murder.”

Habis itu musisi yang juga tergabung ke dalam organisasi pendukung etika terhadap hewan, People For The Ethical Treatment of Animal (PETA) turun panggung tanpa mengucap kalimat lagi. ‘Meat is Murder’ jadi kalimat terakhir yang penonton bawa pulang.

Endingnya terasa kentang

Namun sayang, ada penonton yang justru engga puas dengan penutupan konser yang dimulai heboh itu. Terutama mereka yang sengaja datang dari luar negeri buat nonton Moz di Indonesia.

“Dia meninggalkan panggung begitu saja. Seluruh konser terasa jadi datar, padahal saya sengaja datang dari Malaysia untuk Morrissey,” kata pemilik akun IG @matenggg kepada Genmuda.com setelah bubaran konser.

Hal yang sama juga diucap pemilik akun IG @sategorgon. “Perasaan saya ini mungkin bisa dijelaskan dengan kata ‘kurang pecah’ kalau dalam Bahasa Indonesia,” ujarnya dengan bahasa Melayu-Inggris.

Well, Moz emang sepertinya pengen supaya pesannya nyampe sehingga doi engga banyak omong, intermezo, atau menyapa penonton sepanjang konser. Sebanyak 19 judul lagu pun bisa dibawain sekitar 2 jam aja. (sds)

Share and Enjoy !

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.