Senin, 10 Agustus 2020

Genmuda – Gak kerasa ya kita udah masuk di hari ke-27 puasa, dan tinggal 3 hari lagi puasa. Ketika di akhir Ramadhan ini, apa yang kamu rasain? Sedih akan ditinggal sama bulan penuh pahala, atau seneng karena akhirnya THR kamu turun?

Sedih boleh, dan cara menghilangkan kesedihannya adalah dengan memaksimalkan ibadah kamu di beberapa hari menuju akhir Ramadhan. Tapi kamu juga mesti seneng nih, karena akhirnya kamu dapet THR. Eits, udah dapet THR kan? Seharusnya sih udah ya, karena seharusnya THR itu diberikan selambat-lambatnya H-7 hari raya.

Apalagi sih ketentuan THR yang perlu kamu tau dan yang mesti kamu dapet? Ini dia 7 hal yang mesti kamu tau soal si Tunjangan Hari Raya yang selalu ditunggu-tunggu tiap mau lebaran.

1. Apa sih THR sebenernya?

via: Tumblr

Menurut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2016 Tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan, menyebutkan di Bab I pasal 1 yang menjelaskan kalo THR adalah pendapatan non upah yang wajib dibayarkan oleh Pengusaha kepada Pekerja atau Buruh atau keluarganya menjelang Hari Raya Keagamaan.

2. Siapa yang ngasih THR pertama kali?

Asal mula THR ini muncul di Jaman Jepang dulu, tepatnya di tahun 1943 dengan istilah ‘Hadiah Lebaran’ buat para pegawai negeri. Dilansir dari Tirto.id, di tahun 1953 Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia menyuarakan tentang pemberian tunjangan hari raya bagi semua buruh sebesar satu bulan gaji kotor.

Menteri Perburuhan dalam Kabinet Kerja II, Ahem Erningpraja yang mengeluarkan kebijakan kalo THR wajib dibayarkan dan menjadi hak buruh dengan masa kerja sekurang-kurangnya 3 bulan kerja. Kebijakan itu ditulis di Peraturan Menteri Perburuhan nomor 1/1961 yang dikeluarkan oleh Ahem.

3. Cuma untuk Muslim aja atau agama lain juga?

Surprise Girl

Enggak dong! Sesuai namanya, yaitu Tunjangan Hari Raya Keagamaan, THR ini harus diberikan kepada semua pegawai atau pekerja sesuai dengan agamanya masing-masing. Hari Raya Idul Fitri buat pekerja/buruh yang beragama Islam dan Hari Raya Natal bagi pekerja/buruh yang beragama Kristen Katolik dan Protestan.

Selanjutnya, Hari Raya Nyepi buat pekerja/buruh yang beragama Hindu, Hari Raya Waisak buat pekerja/buruh yang beragama Budha dan Hari Raya Imlek buat para pekerja/buruh yang beragama Konghucu.

4. Siapa yang berhak dapet THR?

Berdasarkan pertauran yang udah tertera di Permenaker No.6 tahun 2016 pasal 2, pengusaha diwajibkan buat kasih THR Keagamaan kepada semua pekerja yang udah mempunyai masa kerja selama 1 (satu) bulan atau lebih secara terus-menerus. Peraturan ini berlaku buat semua jenis karyawan, alias gak membedakan status si pekerja, apakah udah jadi karyawan tetap (full time), karyawan kontrak (part time) atau karyawan paruh waktu (freelancer). 

Jadi, ada 2 jenis pegawai yang berhak dapet THR dari pengusaha atau perusahaan. Yang pertama adalah pegawai/buruh yang udah mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih sebesar 1 bulan upah, dan yang kedua adalah pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja 1 bulan secara terus menerus tetapi kurang dari 12 bulan diberikan secara proporsional dengan masa kerja yakni dengan perhitungan masa kerja/12 x 1 (satu) bulan upah.

5. Terus THR harusnya dikasih kapan?

via: Tumblr

Ternyata waktu pemberian THR itu udah ditentukan juga loh, gak bisa sembarangan dikasih setelah waktu yang ditentukan. Kalo dikasihnya sebelum sih gak apa-apa, malah bagus. Biar pegawainya bisa beli kebutuhna lebaran yang diperlukan. Tapi kalo terlambat gak boleh tuh, itu sama aja perusahaan itu ngelanggar peraturan.

THR itu seharusnya dikasih satu minggu sebelum hari raya keagamaan dirayakan. Dan meskipun kamu di PHK, kamu tetep berhak buat dapet THR itu, dengan syarat kamu adalah pegawai tetap dan di PHK maksimal 30 hari atau 1 bulan sebelum hari raya keagamaan.

6. Kalo perusahaan gak mau bayar THR gimana?

Wah, telat kasih THR aja gak boleh, apalagi gak mau bayar? Udah jelas-jelas melanggar hukum loh. Ketentuan ini udah diatur di Undang Undang Nomor 14 Tahun 1969 pasal 17 tentang ketentuan-ketentuan pokok mengenai tenaga kerja. Pengusaha atau perusahaan yang gak mau membayar THR buat karyawannya bisa dilaporkan ke Dinas Tenaga Kerja setempat, dan ancaman hukumnya bisa berupa kurungan maupun denda.

7. Gimana sih perhitungan THR yang bener?

via: Pop Sugar

Perhitungan THR adalah untuk karyawan yang udah kerja lebih dari 12 bulan adalah 1 x upah per bulan. Upah di sini adalah jumlah gaji pokok ditambah tunjangan tetap. Sedangkan untuk yang kerjanya belum sampe 12 bulan, cara perhitungannya adalah perhitungan masa kerja x upah 1 bulan / 12. Biar gak bingung, sekarang kita hitung ya.

Misalnya, Ferina telah bekerja sebagai karyawan di PT. Angkasa selama 3 tahun, dan gaji pokoknya adalah Rp. 3.000.000, dan tunjangan makan serta transport adalah Rp. 1.500.000. Maka THR yang harus didapat Ferina adalah:

1 x gaji pokok + tunjangan = 1 x (3.000.000 + 1.500.000). Jadi, THR yang didapet oleh Ferina adalah Rp 4.500.000.

Tapi kalo kamu kerjanya belum sampe 12 bulan, begini perhitungannya. Misalnya Intan kerja di PT Media selama 3 bulan, dan gaji pokoknya adalah Rp 2.000.000, dengan tanpa tunjangan. Maka cara perhitungannya adalah:

masa kerja (3 bulan) x gaji pokok (Rp 2.000.000) / 12. Jadi THR yang bisa Intan dapat adalah Rp 500.000.

(sds)

Share and Enjoy !

Comments

comments

Fiany Intan Vandini
The youngest reporter on the 2nd floor of Gen Muda Office.