Senin, 10 Agustus 2020

Genmuda – Rencana Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy menghapus Ujian Nasional masih belum resmi diterapkan loh, gaes. Keputusan itu masih perlu dicermati mendalam bersama jajaran Pak Jokowi di Istana minggu ini.

Seperti dikutip harian Kompas, Senin (28/11), Pak Muhadjir bilang kalo hasil pembahasannya bisa ada tiga. Pertama, Ujian Nasional (UN) benar-benar ditiadakan. Kedua, UN distop sementara pada 2017, sambil melihat dampaknya. Kalo positif ya diterusin, sementara UN bakal ada lagi kalo hasil evaluasinya negatif. Ketiga, tetap menjalankan UN tapi teknis pelaksanaannya diserahkan ke tingkat daerah. Berarti, provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat bisa punya standar UN berbeda.

Opsi ketiga itu dijelasin lebih lanjut teknisnya. “UN tingkat SMA sederajat ditangani provinsi, sementara untuk tingkat SD dan SMP sederajat jadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota,” tuturnya seperti dikutip Kompas.

Udah bulat dari kementerian pendidikan

via tumblr.com

Kabar penghapusan UN ini bisa viral karena Pak Muhadjir omongin kebulatan niatnya kepada para media, sejak 24 November lalu. Tempo.co mengutip omongan Pak Muhadjir kalo “Kajiannya sudah tuntas. Pihak kementerian memutuskan UN dimoratorium (ditunda).”

Keputusan itu diambil karena Kemendikbud pengen balikin hak dan wewenang guru buat nentuin kelulusan siswanya. Dengan begitu, murid dan orang tua siswa engga perlu stres lagi menghadapi kelulusan.

Dalam suasana bebas stres itu, Kemendikbud berjanji perbaiki lagi sistem pendidikan. Pak Muhadjir berjanji dongkrak 70% sekolah di Indonesia supaya sesuai standar nasional. Tapi, keputusan akhirnya kan ada di tangan Pak Joko Widodo. Kalo minggu ini beliau mutusin UN dihapus, ya rencana Pak Muhadjir berjalan lancar. Kalo engga, ya udah berjalan seperti biasa kayak tahun-tahun sebelumnya.

Ada yang engga rela UN dihapus

via giphy.com

Sementara murid bersorak girang atas kabar dihapusnya UN, para guru justru ketar-ketir. Misalnya aja Pio Ngaljaratan, guru SMA Negeri 1 Kota Ambon, Maluku. “Dikhawatirkan, euforia ini membuat mereka tidak tekun belajar lagi karena pasti diluluskan sekolah,” tuturnya seperti dikutip Kompas.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Cirebon, Jawa Barat, Jaja Sulaeman juga engga setuju UN dihapus. Soalnya, kegiatan itu adalah cara terbaik mengukur kompetensi tiap sekolah.

“Tidak tepat kalau standar UN diserahkan ke tingkat daerah. Sebab, sarana dan prasarana pendidikannya berbeda,” tuturnya. Intinya sih, beliau khawatir kalo pendidikan di Indonesia bisa jomplang nantinya.

Gimana menurut Kawan Muda? Setuju engga kalo UN dihapus aja selama-lamanya? Jangan lupa tinggalin komentar kamu di bawah ini, ya. (sds)

Share and Enjoy !

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.