Kamis, 29 Oktober 2020

Genmuda – Kawan Muda sadar engga sih kalo nama Rocky Gerung lagi sering diomongin antara Selasa malam (17/1) dan Rabu sore (18/1)? Kamu tau engga kenapa peneliti dan dosen Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI itu bisa ngetren? Nih Genmuda.com jelasin.

Selasa malam itu, Mas Rocky (anak FIB UI biasa manggil dosennya Mas/Mbak) diundang ke acara TV Indonesia Lawyer Club (ILC). Beliau ‘galak’ mengeritik usaha pemerintah Indonesia ngeberantas hoax yang lagi rame.

Mas Rocky engga setuju banget kalo pemerintah cuma asal blokir situs yang dicurigai. Sebaiknya, ada sebuah prosedur, manual, atau tata cara misahin info konkret dari yang hoax sebelum main blokir. Kalo salah blokir gimana coba?

via ytimg.com
Mas Rocky lagi ngomong soal kesetaraan gender. (Sumber: YouTube).

Terus, kenapa doi bisa diundang ke acara itu? Karena, surat pendapat yang berisi kritik beliau dimuat di situs Tempo.co dan masuk hariannya juga, 11 Januari lalu. Sempet diomongin juga tuh isi suratnya.

Isi tulisannya engga kalah galak dari penampilannya di ILC, kok. Bisa dibilang, beliau berani juga karena jadi segelintir pihak yang mengeritik pemerintah. Cuma pendapatnya agak susah dipahami karena banyak istilah ilmiah.

Tenang, gaes. Di bawah ini, Genmuda.com coba jelasin maksud beberapa istilah yang beliau gunakan di artikelnya. Semoga aja kamu makin gampang ngertiin pendapat beliau setelah baca artikel ini.

1. Media mainstream

via tenor.co

Sebenernya, susah banget ngedefinisiin ‘media mainstream,’ gaes. Tapi, yang Mas Rocky maksud dengan ‘media mainstream’ mungkin adalah portal berita, koran, majalah, atau tabloid yang nyebar informasi melulu sesuai pendapat pemerintah.

Kalo kata kamus Merriam-Webster, maksudnya adalah media yang mengikuti arus sehingga isi berita sama antara satu media dengan media lain. Cuma, engga ada media yang pernah mengaku mainstream karena engga ada maling ngaku maling. No offense.

2. Misinformasi dan disinformasi

Dalam bahasa biasa, keduanya bisa disamain dengan arti ‘salah informasi.’ Lebih detilnya gini, misinformasi artinya adalah berita salah yang diterima/disebar orang, tapi orang itu menganggap beritanya bener.

Sementara disinformasi adalah berita salah yang diterima/disebar orang, tapi orang itu tau beritanya salah. Dengan begitu, disinformasi bisa bikin orang misinformasi namun engga sebaliknya.

3. Demarkasi

via tenor.co

Kamus Besar Bahasa Indonesia nyebut kalo demarkasi artinya adalah garis batas, tanda batas, atau pemisah. Ganti aja kata demarkasi di tulisannya Mas Rocky pake salah satu dari tiga sinonim tadi supaya lebih gampang dipahami.

4. Legitimasi kekuasaan

Inget engga pelajaran IPS? Di bab soal politik dan pemerintahan pasti bukunya bilang kalo pemerintah bisa berkuasa karena ada pengakuan dari rakyatnya. Nah, legitimasi kekuasaan adalah upaya dapetin pengakuan itu.

5. Diskursus

Arti kata diskursus sama sekali engga berhubungan sama tempat les atau sejenisnya. Dalam Bahasa Inggris, istilahnya adalah discourse. Artinya bisa ‘perdebatan,’ bisa juga ‘sebuah pemahaman lama yang mengakar dalam masyarakat.’ Tapi yang Mas Rocky maksud, pasti yang artinya ‘pemahaman.’

6. Konsolidasi dan rekonsiliasi

via tumblr.com

Kedua istilah ini artinya sama-sama bersatu. Cuma konsolidasi dipake kalo kedua pihak yang bersatu belum pernah nyatu sebelumnya (misalnya waktu kamu nembak terus jadian). Sementara itu, rekonsiliasi dipake kalo pihak yang bersatu pernah berpisah sebelumnya (contohnya saat kamu balikan).

7. Sistem evaluasi opini publik

Hmm…. Empat kata yang menakutkan dan sulit dimengerti. Tapi tenang! Genmuda.com tau maksudnya. Setelah ngebaca seluruh opini Mas Rocky, kata-kata itu maksudnya adalah ‘tata cara memilah fakta dari hoax.’

Tata cara itu lah yang menurut Mas Rocky dibuat pemerintah sebelum asal blokir. Kawan Muda punya pendapat lain soal istilah di atas? Langsung aja tulis komentar kamu di bawah ini, siapa tau kamu jadi Rocky Gerung selanjutnya. FYI, opini beliau bisa kamu liat di sini. (sds)

Share and Enjoy !

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.