Senin, 16 September 2019

Genmuda – Lima orang calon dokter melakukan eksperimen gila dengan mati sesaat guna mencari tau hal apa yang terjadi pada otak manusia ketika mereka meninggal. Premis tersebut coba ditawarkan oleh film “Flatliners” yang mulai tayang di Indonesia pada minggu keempat Oktober 2017.

Digarap oleh Niels Arden Oplev film sci-fi ini merupakan remake film “Flatliners” tahun 1990. Aktor dalam film pertamanya Keifer Sutherland ikut terlibat menjadi cameo sebagai profesor medis sekaligus mentor kelima mahasiswa kedokteran tersebut.

Teori alam baka

©Columbia Pictures

Cerita diawali ketika Courtney (Ellen Page) mengalami kecelakaan mobil bersama adiknya, Tessa (Madison Brydges). Akibat kecelakaan tersebut Tessa meninggal lantaran terjebak dalam mobil mereka yang tenggelam di sungai.

Sembilan tahun berlalu, Courtney telah menjadi seorang mahasiswa kedokteran. Didorong perasaan bersalah, ia berusaha mencari cara untuk kembali bertemu dengan sang adik untuk meminta maaf. Dokter imut ini percaya bahwa saat manusia mati, otak mereka masih hidup sekitar lima menit dan pada saat itulah teori kehidupan dalam alam baka bisa terpecahkan.

Metode inilah yang kemudian disebut flatlining,– dimana seseorang dengan sengaja menghentikan denyut jantung dalam beberapa menit kemudian menghidupkan kembali, demi mengungkap rahasia otak manusia saat mereka meninggal.

Dibantu oleh teman-temannya, Jamie (James Norton), Sophia (Kiersey Clemons), Marlo (Nina Dobrev), dan Ray (Diego Luna), percobaan gila ini akhirnya berhasil dilakukan oleh Courtney dan kehidupannya berubah total.

Courtney mulai mengingat hal-hal kecil dalam masa lalunya dengan sangat cepat. Daya ingatnya pun semakin meningkat, terutama dalam hal-hal ilmiah yang rasanya sangat sulit dilakukan oleh orang biasa.

Tertarik memiliki kemampuan serupa, Jamie, Marlo, dan Sophia secara bergantian melakukan flatlining. Seperti yang bisa ditebak, ketiga sukses meningkat daya ingat mereka. Hanya Ray seorang yang gak tertarik pada flatlining.

Efek samping flatlining keluar jauh dari inti cerita

©Columbia Pictures

Gak lama setelah melakukan flatlining, Courtney mulai merasakan hal janggal di dalam kepalanya. Ia seolah merasakan kehadiran Tessa. Dari situlah, efek samping flatlining mulai dirasakan oleh ketiga calon dokter lainnya. Mereka seolah dihantui oleh kesalahan dan dosa mereka di masa lalu.

Setengah jam pertama, penonton diajak mengetahui kehidupan seorang dokter muda dengan banyak istilah-istilah medis. Lewat eksprimen flatlining pula, berhasil membuka pikiran penonton tentang asal-usul teori alam baka, atau mungkin menjawab fenomena mati suri yang susah dijelaskan oleh nalar.

Kesan dan ide utama dari film ini sebenarnya sangat menarik buat diikuti. Namun, setelah menyaksikan satu persatu aktor mengalami kematian sesaat, adegan demi adegannya mulai terasa ngebosenin dan bikin penonton ngantuk.

Jalan ceritanya menjadi kacau

©Columbia Pictures

Banyak hal ilmiah dalam film ini justru melenceng jauh tanpa penjelasan berarti setelah efek flatlining muncul. Awalnya film fokus membicarakan otak manusia setelah mati sesaat, apa reaksinya, atau gimana jadinya setelah kematian itu tejadi. Bisa dibayangin betapa bagusnya TEORI tetang alam baka itu dicetuskan, tapi kenapa tiba-tiba teror yang datangnya dari masa lalu bisa muncul menghantui mereka, tanpa ada penjelasan ilmiah? Apalagi semua pemerannya dokter, loh!

Sah-sah aja jika film sci-fi ada bumbu drama horor, SELAMA perpindahan jalan ceritanya masih masuk akal dan gak maksa. (Namanya juga film sci-fi kan?) Lucu aja gak sih, saat kamu nonton film medis tiba-tiba muncul cerita klenik. Mubazir pula semua teori medisnya, karena cerita horor (gak jelas) malah bikin tokoh-tokohnya keliatan bodoh. It’s not cool, right?

Overall, kamu mungkin bakalan kecewa berat karena teror berkepanjangannya bisa hilang lewat cara sederhana, bahkan gak ilmiah sama sekali. Walau jalan ceritanya mengecewakan, penulis tetap memberikan catatan positif pada akting Ellen Page yang jago memainkan emosi penonton, serta Diego Luna yang ‘PAS’ memainkan seorang calon dokter yang pintar serta mampu berpikir rasional.

Sayang banget film remake ini gak bisa memenuhi pecinta film-film sci-fi, ditambah lagi waktu tayangnya harus bersaing dengan film “Thor: Ragnarok”, agak sulit aja buat menarik minat penonton di Indonesia.

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.