Senin, 21 Januari 2019

Genmuda – Yeay! Film “DreadOut” resmi dirilis mulai hari ini gengs, Kamis (3/1). Diadaptasi dari video game berjudul serupa, film garapan Kimo Stambole tersebut merupakan sebuah prequel yang dijahit sedemikian rupa dan berkoordinasi barengan Digital Happiness selaku developer gamenya.

Dari konferensi persnya Rabu (2/1), di CGV Grand Indonesia, Kimo bilang kalo dirinya berkomunikasi dengan pihak Digital Happiness untuk memberikan masukan dan saran dalam penggarapan cerita. Ia juga diberikan kebebasan buat ngembangin DreadOut Universe dengan memasukan beberapa teori fans yang belum terjawab dalam gamenya. Terus apa yang menarik ya dari film ini? Nih baca dulu review tengah pekan Genmuda.com berikut ini!

Eksis yang berujung petaka

©GoodHouse/2018
©GoodHouse/2018

Seperti informasi di Genmuda.com bulan Desember lalu, film “DreadOut” menghadirkan sekumpulan anak SMA yang berusaha nunjukin eksistensi diri mereka dengan memasuki sebuah rumah susun angker. Mereka semua adalah Alex (Jefri Nichol), Jessica (Marsha Aruan), Beni (Irsyadillah), Dian (Susan Sameh), dan Alex (Ciccio Manassero).

Buat masuk ke dalam rusun tersebut mereka kemudian meminta bantuan dari Linda (Caitlin Helderman), adik kelas yang kebetulan kenal deket dengan penjaga rusun tersebut yaitu, Satpam Heri (Mike Lucock).

Maksud hati pengen lebih viral pas live di media sosial, Jessica malah ngotot untuk masuk ke area terlarang yang sengaja ditutup lantaran pernah ada kasus pembunuhan yang ngelibatin sekte aliran sesat di rusun tersebut.

Tanpa disadari oleh keenam anak SMA tersebut, aksi mereka malah membuka portal mistis dan membangkitkan iblis yang ingin menyeret mereka ke dalamnya. Dari situlah penonton kayak diajak buat mengikuti perjalanan Linda memasuki alam gaib sekaligus mengupas misteri setan setan Kebaya Merah yang menyebabkan banyak orang meninggal dalam kejadian sebelumnya.

Masih cari aman dan terburu-buru

©GoodHouse/2018
©GoodHouse/2018

Tanpa harus main game “DreadOut” film ini masih bisa kamu nikmatin jalan ceritanya, cuma ada beberapa adegan yang kayaknya dipangkas dengan hati-hati. Penulis bisa maklum karena dari wawancara dengan Edwin Nazir selaku produser, dirinya emang mewanti-wanti supaya Kimo bisa lebih kalem, terutama buat mengurangi adegan gore atau slasher, bahkan rating film yang awalnya hanya untuk 13+ akhirnya naik menjadi 17+.

Sayangnya hal ini yang bikin filmnya terkesan cari aman dan malah jalan ceritanya kelihatan buru-buru. Hasilnya gak sedikit hal-hal kecil yang bikin ceritanya agak hambar. Sebagai contohnya ada saat Jessica menyogok Linda dengan anting miliknya supaya mau ngebujuk izin Satpam Heri. Tanpa ada perdebatan, Linda rela aja cabut ‘gitu aja’ dari kerjaannya di mini market.

Dalam adegan awal film juga terlihat kalo seragam Linda adalah satu-satunya yang gak punya logo OSIS. Gak tau deh emang disengaja atau engga, yang jelas kalo kamu termasuk orang yang cukup detil pasti bakal ngerasa janggal.

Kalo pun ada hal lain yang kelihatan buru-buru adalah bagaimana film ini berusaha menjelaskan flash kamera hp sebagai senjata utama Linda seperti di gamenya. Buat kamu yang udah main gamenya sih mungkin bakal terima-terima aja, tapi buat yang gak tau sama sekali pasti cuma mikir “Oh, karena dia punya six sense aja ya?”.

Terlepas dari itu semua film ini masih cukup mantap buat urusan visual efek dan makeup para hantu. Kendati ceritanya emang gak terlalu serem, namun akting Caitlin Helderman cukup oke kok buat meranin Linda. Urusan scoring juga masih aman buat ngebangun adegan menegangkan. So far kalo kamu gak pernah mainin gamenya pun masih bisa menikmati kengerian yang ditawarin.

Kesimpulannya

©Genmuda.cacom/2018 Liki
©Genmuda.cacom/2018 Liki

Overall, penulis ngerasa bahwa “DreadOut” belum bisa dibilang sebagai film horor yang komplit. Keterbatasan Kimo ‘khususnya’ dalam mengurangi adegan brutal bikin filmnya jadi terasa kentang.

Jadi kalo kamu punya ekspektasi atas film ini penulis cuma bisa bilang jangan terlalu ketinggian ya. Jelek atau bagusnya emang relatif, tapi buat masuk kategori film horor yang sukses bikin penonton takut kayaknya sih masih belum cukup.

Well, gitu aja review Genmuda.com kali ini. Dan perlu kamu ingat, setelah filmnya selesai masih ada dua post credit yang berpotensi untuk membuka sekuel DreadOut selanjutnya. Selamat menonton!

(sds)

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.