Senin, 15 Oktober 2018

Genmuda – “Star Wars: The Last Jedi” jadi film akhir tahun 2017 yang cukup ditunggu di Indonesia. Film kedelapan dari Lucas Film dan Walt Disney ini kembali melanjutkan perjalanan Generasi Baru Star Wars setelah “The Force Awakens” (2015).

Kalo film sebelumnya digarap sama J.J Abrams, maka sekarang doi memilih menjadi produser eksekutif dan menyerahkan kursi sutradara kepada Rian Johnson. Lewat film ini pula, kamu bisa melihat akting terakhir mendiang Carrie Fisher sebagai Jendral Leia. Kayak gimana keseruannya? Langsung aja baca reviewnya di bawah ini!

Resistance terpojok

©LucasFilm
©LucasFilm

Dibuka oleh opening crawl khas Star Wars, penonton diajak kembali mengikuti perjalanan Rey (Daisy Ridley) untuk membujuk Luke Skywalker (Mark Hamill) membantu pasukan Resistance yang dipimpin Jendral Leia (Carrie Fisher) dalam upaya melarikan diri dari gempuran First Order.

Di sini giliran pilot, Poe Dameron (Oscar Isaac) unjuk kebolehan nerbangin pesawat X-Wing buat menghancurkan pesawat First Order pimpinan General Hux (Domhnall Gleeson). Walau pasukan Resistance berhasil lolos, namun First Order tetap bisa menguntit mereka hingga terpojok.

Adegan perang antariksa itu jelas menjadi opening paling kece buat ditonton, sebelum kita kembali ke pertemuan Rey dan Luke di planet Acht-To, —ending “The Force Awakens” (2015). Sementara itu, Finn (John Boyega) bertemu dengan karakter baru, Rose (Kelly Marie Tran)  mencari cara melumpuhkan pertahanan First Order setelah mendapatkan informasi dari Maz (Lupita Nyong’o).

Jedi terakhir yang susah move on

©LucasFilm
©LucasFilm and Walt Disney/2017

Sesuai judulnya, Luke adalah seorang Jedi terakhir yang menjadi harapan Resistance untuk melawan Snoke (Andy Serkis), –pimpinan First Order. Sementara itu, Rey berusaha mengorek asal-usul keluarganya sambil membujuk Luke untuk menjadi mentornya.

Sayang, pertemuan keduanya berjalan kurang baik. Rey beberapa kali ditolak sama ‘Si Master Jedi’ hingga ia tanpa sengaja memasuki kuil Jedi dan membangkitkan kekuatannya sehingga bisa berkomunikasi dengan Ben Solo alias Kylo Ren (Adam Drives).

Di sisi lain, Luke menjadi sosok mentor yang susah moveon karena merasa bersalah telah gagal melatih Ben sehingga ia berpaling ke sisi jahat bersama Snoke. Sudut padang kedua tokoh protagonis ini pun dinarasikan secara baik oleh Johnson, yang juga merangkap sebagai penulis naskah.

Sudut pandang baru antara kebaikan dan kejahatan

©Disney
©Disney

Perseteruan antara sisi terang dan sisi gelap sebagai inti cerita film ini mampu memberikan sudut pandang baru lewat konflik batin antara Luke, Rey, dan Kylo Ren. Sebagai konsekuensinya, para fans (lagi-lagi) dibikin penasaran sama lanjutan cerita film ini.

Sepanjang film enggak sedikit plot twist yang mungkin berbeda jauh dari trailernya. Tapi yang paling penting nih, semua teka-teki dan teori di film sebelumnya kayak, “Kenapa Luke menghilang?”; “Kenapa Ben Solo berpaling ke sisi gelap?”; atau “Mungkin gak ada sisi lain dalam diri Rey?” bakal terjawab tuntas di “The Last Jedi.”

Overall, Johnson terlihat terlihat sangat jeli buat menjaga ‘muruwah’ cerita Star Wars ke level yang lebih kekinian dan semakin menegangkan. Durasi film sekitar 2,5 jam berhasil doi kemas secara padat, lengkap dengan bumbu-bumbu action, komedi, hingga visual efek yang bikin kamu melongo sepanjang film.

So, kamu penasaran dan pengen ngebuktiin sendiri review dari Genmuda.com barusan? Nonton langsung aja filmnya yang mulai tayang di Indonesia hari ini, Rabu (13/12).

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.