Minggu, 25 Oktober 2020

Genmuda – Jazz Goes to Campus (JGTC) 2017 menyajikan line up kece dengan tema besar “Jazzing through Decades,” yang bisa dinikmati semua orang. Dalam acara ke 40 nanti, panitia siap menghadirkan jazz yang inklusif.

“Kami ingin menghapus kesan bahwa Jazz hanyalah musik eksklusif untuk orang dewasa. Diterimanya jazz bagi anak muda sangat baik untuk perkembangan musik jazz keseluruhan,” tutur ketua pelaksana Arya Prisatrya dalam sesi tanya-jawab konferensi pers JGTC di Pusat Kebudayaan dan Bahasa Prancis (IFI) Jakarta, Kamis (26/10).

Senada dengan ketua pelaksana, Ketua BEM FEB UI Mumtaz Anwari berharap, “Dengan acara ini, kami ingin tunjukkan bahwa Jazz bukanlah musik khusus menengah ke atas, melainkan musik untuk semua kalangan.”

Perwakilan Dekanat FEB UI Pribadi Setyanto sangat mengapresiasi ide mahasiswa tahun ini. “Saya berterima kasih kepada mahasiswa yang selalu punya inovasi. Tahun lalu, bayar royalti ke musisi yang lagunya dimainin. Kali pertama acara kampus membayar pajak hiburan sesuai ketentuan negara.”

Pak Bambang Brojonegoro berharap, “JGTC bukan hanya jadi festival musik, melainkan sebuah wahana untuk mencari bakat baru dalam dunia musik.”

Beliau juga berharap acara ini jadi bentuk alternatif sebuah festival musik mempengaruhi pariwisata daerah. “Seharusnya, Pemerintah Kota Depok juga terlibat,” tutur Beliau.

Biar kamu gak kepo sama isi konferensi persnya, nih Genmuda.com bocorin langsung.

1. Jazz yang beraneka ragam

Arya Prisatrya bilang, JGTC tahun ini akan berisi berbagai aliran jazz yang muncul dari tahun ke tahun sepanjang 4 dekade di Indonesia. Kata panitia, tahun ini musiknya memang sangat beragam supaya lebih banyak penikmat musik yang bisa hadir.

2. Acaranya yang pasti wow

Udah ada 13 artis yang dijadwalkan tampil. Penampilan itu tersebar ke sejumlah panggung, di antaranya satu panggung intimate dan tiga stage besar. “Speknya tidak bisa kami disclose sekarang, namun kami bertekad meningkatkan atraksi tata cahaya,” Vice Project Officer Prayogo.

“Dengan infrastruktur UI yang sudah diperbaiki, kami yakin pengunjung akan nyaman. Harapannya, bisa hadir 22 ribu orang,” tutur Arya.

Dia nganjurin banget penikmat JGTC udah standby dari jam 13.00 waktu setempat. “Rencananya, gate dibuka pukul 14.00 dan langsung nampilin yang terbaik,” tuturnya.

3. Mengaudisi 60 musisi

Penampilan JGTC juga diisi musisi hasil audisi. Pada saat konferensi pers berlangsung, panitia telah memilih 20 dari 60 kelompok. Semuanya belum menerbitkan lagu apapun ke perangkat streaming online dan belum memiliki EP.

“Bisa dibilang, semuanya musisi baru yang pasti akan sajikan penampilan fresh. Mereka pun akan tampil tersebar di keempat panggung juga di pangging pre-event,” tutur Arya.

4. Sound system yang ngejazz parah

DSS sound system yang biasa menangani konser Jazz Ibu Kota dipilih sebagai penyedia perlengkapan suara. Prayogo belum bisa bilang spek sound systemnya. “Detilnya tunggu saja. Tapi, kami pastikan tata cahayanya jauh lebih mewah dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Proyogo.

JSYK, DSS sound system itu merupakan langganan berbagai konser jazz Tanah Air. Termasuk di antaranya, Tangsel Jazz Festival dan Java Jazz Festival.

5. Rangkaian acara menebar Jazz-holic

Sabtu besok JGTC klinik. Peserta JGTC competition berguru langsung sama insan Jazz senior. “Supaya musisi muda makin mendalami dunia musik jazz,” kata Natasha selaku penanggung jawab bidang acara JGTC.

Hingga gong tanggal 26 November mendatang, akan ada rangkaian acara lain. Misalnya, Roadshow di Jogja untuk menyebarkan lebih luas kecintaan terhadap musik Jazz dan gathering musisi Jazz ke beberapa daerah.

6. Tempat belajar ngejazz

Sri Hanuraga sang pianis jazz yang kelima kali terlibat di JGTC. Kali pertamanya dii ikut kompetisi tahun 2003. “Saya berterima kasih banget. Konser itu banyak makna bagi saya. Sejak kecil, saya bisa nonton musisi jazz favorit dan menemukan musisi keren lain,” kata Sri.

Dia juga bilang kalo komposisi line up ngepop dan ngejazz acara ini selalu bagus. “Realistis aja. Tanpa musisi ngepop, mana mungkin sebuah acara akan balik modal. Itu gak apa banget dalam sebuah festival Jazz. Dengan penjadwalan yang baik, tiap penonton pada akhirnya mendengarkan jazz juga,” tutup Sri.

Pada JGTC 2016 pianis itu ditunjuk panitia sebagai music director untuk penampilan tribute to album Janger Bali karya Indonesia All Star. Tahun ini, doi nampil bareng Dira Sugandi membawakan lagu-lagu nasional dan daerah dengan irama jazz.

7. Museum Jazz hanya ada di JGTC

Selain nampilin musik live, panitia juga nyiapin area yang akan menjadi museum JGTC. Di dalamnya, terdapat beragam informasi menarik mengenai perkembangan Jazz Tanah Air, terlebih JGTC udah dirintis sejak tahun 1978.

“Kami mau pengunjung bisa pulang bukan hanya terhibur karena musik tapi juga makin paham dengan perkembangan musik jazz dari tahun ke tahun. Itu penting,” kata Ketua Bidang Acara Natasha.

8. Didukung Kedutaan Prancis

Membawa musisi Remi siapa itu ke JGTC. “Sejumlah musisi ingin main ke JGTC. Setelah kami pilah-pilih, Remy yang terpilih karena sesuai dengan tema dan mood acara tahun ini,” tuturnya.

Detil line up lengkapnya sengaja belum dikasih tau biar bikin kejutan. Yang penting, jangan lupa atur waktu kosong tanggal 26 November mendatang karena JGTC sudah menanti. Ciao! (sds)

Share and Enjoy !

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.