Minggu, 17 Januari 2021

Genmuda – Membuka tahun 2017 ada satu film fantasi yang siap manjain Kawan Muda buat ngisi hari-hari di bulan Januari. Digarap oleh dua sineas dua negara, Tiongkok-AS, ‘The Great Wall’ adalah film pertama yang dibuat Legendary East, —perusahaan gabungan Tiongkok dengan Legendary Entertainment, dimana studio tersebut dimiliki oleh pengusaha Tiongkok, Wanda Grup.

Proyek film besar ini pun disutradari oleh Zhang Yimou, seorang sutradara Tiongkok yang cukup dikenal oleh Hollywood lewat film ‘The Flowers of War’ (2011). Bahkan Reuters beberapa waktu lalu menginformasikan kalo film ’The Great Wall’ jadi film terbesar sang sutradara yang menonjolkan usur budaya Tiongkok. Wajar kalo akhirnya film ini punya ekspektasi yang cukup besar untuk bisa menembus box office. 

Demi merealisasikan ambisi tersebut film ini emang cukup total dalam jajaran pemain. Di sini kamu bakalan bisa liat aksi aktor Hollywood, Matt Damon dan bintang ‘Game of Throne,’ Pedro Pascal. Sedangkan dari pemain Asia, kamu bisa menonton akting, Jing Tian, Lu Han, hingga Andy Lau.

Alasan dibangunnya Tembok Besar di Tiongkok hingga serangan monster 

(Sumber: Istimewa)

Film ini dibuka oleh sebuah narasi yang menjelaskan bagian cerita terkait alasan berdirinya Tembok Besar yang memiliki sebuah legenda tersendiri di balik kemegahannya. Penonton kemudian langsung disajikan adegan kejar-kejaran di gurun pasir nan luas. Di sini lah kamu bakalan kenal sama William (Matt Damon) dan Tovar (Pedro Pascal), seorang prajurit bayaran dengan misi khusus di dataran Tiongkok.

Berbeda dari peran Damon yang sering menjadi agen serba bisa ala ‘Bourne’, atau astronot ngeyel macem Mark Watney dalam film ‘Martian’, sekarang doi harus terlihat gahar dengan dandanan seorang prajurit Eropa (yang mirip pasukan Viking). Dalam perjalannya ternyata doi juga berniat mencari ‘serbuk hitam’ (bubuk mesiu) untuk diperjualbelikan di Eropa.

Tak lama berselang, keduanya justru diserang oleh seekor monster mitos bernama, Tao Tie. Bebekal senjata ala kadarnya, William dan Tovar malah mampu mengalahkan monster tersebut. Keduanya lantas ditahan oleh pasukan tentara Orde Tanpa Lama untuk dimintai keterangan lebih lanjut. 

Kemampuan keduanya lantas menarik perhatian para petinggi Orde Tanpa Nama, salah satunya adalah jendral perempuan, Lin (Jing Tian), bahkan keduanya dipercayai untuk bertarung melawan Tao Tie. Di sini penonton juga mendapat penjelasan mengapa monster tersebut ingin menyerang umat manusia yang berada di dalam Tembok Besar.

Keren di awal, terasa nanggung di akhir

Via: Google
(Sumber: Istimewa)

Penikmat film berat Tiongkok mungkin bakalan kagum sama penggambaran pasukan tentara di sini. Yup, sesuai historis, bangsa Tiongkok emang menjadi salah satu bangsa yang cukup kental dalam segi pemerintahan dan strategi perang. Semua aspek tersebut secara mantap mampu digambarkan secara mulus oleh Yimou. Mulai dari kostum prajurit, formasi perang, hingga segala macam senjata yang digunain terlihat epik sebagai film fantasi.

Sayangnya kesan keren tersebut justru agak nanggung dengan kerapatan jalan ceritanya di akhir. Penulis melihat justru peran Matt Damon dan Pedro jadi kayak Awkward Moment dalam situasi darurat. Mungkin keduanya seolah hanya menjadi bumbu untuk menarik pasar dunia.

Meski jalan ceritanya emang cukup mendebarkan sepanjang film, tapi ‘The Great Wall’ seperti kurang menyajkan suatu pertempuran akhir yang spektakuler. Pertempuran para monster dan umat manusia di film ini terkesan sangat cepat di bagian akhir atau engga bisa menjembatani jalan cerita yang udah menarik di awal.

Terlepas dari kritik tadi, segala penilaian itu kayak masih cukup wajar gaes, mengingat kamu masih bisa terhibur sama jokes bromance William dan Tovar, kagum sama wajah ganteng Lu Han, atau terpana sama kecantikan Jing Tian, hingga aksi-aksi heroik tipikal film Asia.

Jadi kalo butuh film yang engga terlalu berat tapi cukup menegangkan, film ini layak kamu tonton di bioskop Indonesia mulai tanggal 4 Januari 2017. Simak juga trailer filmnya di bawah ya:

Share and Enjoy !

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.