Senin, 24 Januari 2022

Genmuda – Kualitas Chrome, Firefox, Opera, Edge, dan Safari sebagai browser bisa bagus karena diolah sama company gede. Modal banyak dan tenaga kerja ahli tiap perusahaan bikin browsernya selalu jadi yang terpopuler.

Padahal, belum tentu juga semua fitur tersedia sesuai keinginan netizen. Akibatnya, browser itu lancar dipakai di sebuah gadget, tapi error di gadget lain. Ada kemungkinan kamu udah lelah pakai browser lama yang sekarang terasa engga keren lagi.

Ada banyak perusahaan dan komunitas teknologi bikin browser versi mereka sendiri, kok. Fiturnya juga engga kalah keren dan bisa jadi alternatif yang baik. Coba perhatiin penjelasannya di bawah ini dan pilih yang sesuai keinginan kamu.

1. Vivaldi

via linuxinsider.com
(Sumber: linuxinsider.com).

Seperti Vivaldi yang biasa bikin lagu klasik smooth, browser Vivaldi juga relatif smooth saat dipakai di Windows. Bukan cuma itu, susunan browsernya juga bisa diutak-atik seperti Lego. Tempat tab dan address bar bisa dipindah dari atas ke samping, atau sebaliknya. Browsernya juga menyediakan berbagai extension atau plug-ins yang tersedia dari marketnya Google Chrome extension. Browsernya juga menyediakan lapak kosong yang bisa dipakai nulis notes, loh.

2. Chromium

via istimewa
(Sumber: Istimewa)

Mungkin, keputusan Google nyediain versi bongkar-pasangnya Chrome bisa dibilang boomerang. Soalnya, komunitas netizen secara bergantian ngerakit browser yang lebih ringan dan responsif daripada Chrome, namanya Chromium. Program itu utamanya dipakai di OS berbasis Linux, tapi sekarang udah tersedia versi Windows dan iOS-nya. Kekuranganya cuma satu yaitu programnya harus diperbarui secara manual karena engga punya fitur auto-update.

3. Brave

via engadget.com
(Sumber: engadget.com)

Brave Browser dibangun pakai arsitekturnya Chromium yang ditambah beberapa kodingan Firefox. Pada akhirnya, lisensi Brave Browser diterbitin sama Mozilla dalam bentuk public license. Artinya, tiap orang bebas mengutak-atik sistem browsernya. Dalam update yang rilis desember 2016, browsernya juga bisa ngeblokir beberapa iklan secara otomatis. Soalnya, engga semua data konsumen disebarin ke pihak lain untuk kebutuhan iklan.

4. GNU IceCat

via softpedia.com
(Sumber: softpedia.com).

Mozilla juga perlu terima kenyataan kalo versi bongkar-pasangnya Firefox malah jadi salah satu pesaing keras. GNU Project berhasil ngerakitnya jadi browser baru bernama IceCat yang jauh lebih aman. Browsernya dipasangi pemblokir file engga penting yang pada akhirnya menghemat data internet. Cocok banget dipakai sebagai browser ponsel.

5. Tor Browser

via filehippo.com
(Sumber: filehippo.com).

Serba aman. Itulah Tor Browser yang dilengkapi fitur keamanan ekstra. Browsernya bisa menjelajahi internet tanpa terdeteksi pihak ketiga. Dengan kata lain, bakal aman saat menjelajah situs “gelap” yang cukup mencurigakan. Programnya dibangun pakai arsitektur dasar Firefox, jadi beberapa plug-in Firefox bakal cocok dipasang di Tor Browser. FYI, browsernya juga bisa diinstall di dalam USB dan dipakai di berbagai komputer, loh.

6. SeaMonkey Navigator

via wikimedia.org
(Sumber: wikimedia.org)

Si monyet laut ini dulunya bernama “Mozilla Aplication Suite.” Meski dibangun pakai arsitekturnya Firefox, sistem SeaMonkey beroperasi jauh lebih ringan dan cepet daripada browsernya Mozilla. Sayang, tampilannya suka telat update karena timnya lebih ngutamain performa koding daripada visual. Wajib dicoba, apa lagi karena browsernya bisa dipasangi banyak plug-ins.

7. Lunascape

via softpedia.com
(Sumber: softpedia.com).

Ibarat kopi sachet, Lunascape adalah Browser 3 in 1. Programnya dibangun dengan arsitektur Chrome, Firefox dan Internet Exprolrer. Akibatnya, setiap situs bakal ditampilin dengan setingan paling optimal. Browsernya tergolong ringan dan loadingnya cepet. Kekurangannya cuma satu. Programnya ninggalin folder sisa setelah dihapus. Sampahnya bisa di-delete secara manual sih, tapi kan buang-buang waktu aja. (sds)

Share and Enjoy !

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.